Laman

Jumat, Januari 13, 2012

Alasan Mengapa Warna Kulit Manusia Berbeda

Warna kulit manusia berbeda-beda, bahkan dalam tingkat keluarga saya. Kakak berkulit kuning terang tapi saya agak gelap. Ya tidak hitam tapi juga tidak putih. Juga bukan abu-abu. Ya semacam krem kecoklatan gitu. Mengapa? Entahlah. Sudah mencari-cari referensi di google. Tidak ketemu, mungkin belum. Malah tidak sengaja terbaca artikel yang memuat alasan-alasan mengapa warna kulit manusia berbeda, terutama antar ras dan antar tempat tinggal di bagian bumi ini. Cukup menarik. Bagaimana hubungan peparan sinar matahari dengan proses seleksi alam? Apakah saya bisa hidup dengan kulit agak gelap ini karena memang inilah kulit terbaik bagi saya? Hmm...



Warna Kulit Terkait Dengan Intensitas Paparan Matahari
Ini adalah alasan yang paling umum diketahui. Bahwa persebaran ras dengan warna kulit yang berbeda adalah mekanisme adaptasi dan perlindungan. Melanin, pigmen yang bertangtungjawab terhadap perbedaan warna kulit, melindungi sel-sel kulit agar tidak rusak terkena paparan sinar ultraviolet matahari. Pigmen melanin dapat bertambah banyak dengan adanya paparan sinar matahari. Manusia yang tinggal di daerah khatalustiwa/ekuator akan mempunyai warna kulit yang gelap. Misalnya orang-orang di daerah afrika dan papua. Lho tapi kok orang asustralia putih-putih? Ya karena mereka bukan penduduk asli, lha baru beberapa ratus tahun pindah dari eropa ke situ kok. Yang sudah beribu tahun ya suku aborigin.



Paparan Sinar Matahari menurunkan Jumlah Folat
Pada suatu penelitian, orang yang kulitnya terpapar oleh sinar matahari intensitas tinggi mengalami penurunan signifikan kadar folat di dalam tubuhnya. Lalu apa hubungannya dengan evolusi dan seleksi alam? "Ternyata Folat yang cukup deiperlukan untuk perkembangan saraf pada janin. Bila seorang ibu hamil kekurangan folat, janin dapat mengalami defek kongenital bernama spina bifida, sehingga menurunkan survival keturunannya. Selain bagi ibu hamil, folat juga diperlukan untuk proses fisiologis terutama sintesis DNA normal dari sel-sel tubuh termasuk pembentukan sperma (spermatogenesis). Jadi, folat juga sangat terkait dengan kesuburan pada pria. Inilah yang mendasari pemikiran bahwa ada evolusi yang terjadi. Evolusi dan seleksi alam bertujuan melindungi kadar folat tubuh yang penting bagi kelangsungan suatu spesies (melalui proses reproduksi)

Semakin banyak paparan UV semakin butuh perlindungan melanin
Melalui proses yang lama, terjadi perubahan genetik, kulit manusia yang tinggal di ekuator jadi memproduksi banyak melanin untuk melindungi kadar folat. Bila tidak terbentuk perlindungan ini maka manusia tersebut mengalami gangguan dalam proses reproduksi terkait kekorangan folat. Bila ada variasi genetik, maka genetik manusia yang survive sampai sekarang adalah keturunan yang mempunyai produksi cukup melanin (jadi mayoritas satu ras kulitnya item). Manusia yang berpindah tempat tinggal ke daerah dekat kutub kulitnya menjadi berwarna lebih cerah. Mereka tidak terlalu membutuhkan perlindungan melanin karena paparan sinar UV yang tidak bergitu banyak seperti di ekuator.



Manusia yang tinggal di subtropis memang tidak boleh berkulit terlalu gelap
Mengapa? Karena mereka tetap membutuhkan sinar matahari yang cukup yang sampai di keratinosit untuk mengubah provitamin D menjadi vitamin D. Vitamin D sendiri juga penting untuk pertumbuhan normal tubuh, tulang janin. Jadi kalau teralu gelap, bisa jadi paparan sinar matahari tidak cukup kuat menemnus melanin. Kalau tidak cukup proses pewarisan sifat genetik jadi berhenti sehingga yang survive adalah yang memiliki sifat gen berkulit tidak terlalu gelap.

Ya, begitulah alasan-alasan mengapa warna kulit manusia berbeda dari artikel populer yang kutemukan. Lumayan logis sih, karena memang pada intinya, yang ada pada tubuh manusia memang ada tujuannya. Termasuk kelebihan melanin. Berkulit terang atau gelap pada dasarnya merupakan properti survival suatu spesies yang tinggal di daerah tertentu. Tentu saja perubahan yang terjadi memakan waktu beribu atau berjuta tahun. Ndak mungkin lah kalo misalnya saya tinggal di eropa lalu kulitnya langsung berubah. Ngarep.com :D

Sumber: HubPage
Edu

2 komentar:

  1. australia kan suku aslinya aborigin dan australia di subtropis mengapa warna kulitnya hitam, begitu juga orang kalimantan dan papua sama2 di tropis kok orang kalimantan lebih cerah dari pada papua, coba bandingkan suku india maya hidup di amerika tengah kulitnya juga tidak terlalu gelap kayak orang africa, di afrika sendiri coba bandingkan di rwanda ada dua suku yang satu hitam yang satu coklat/tutsi, di india ada yang hitam ada yang putih. afrika selatan di subtropis mengapa orang aslinya tetap hitam, orang arab yg kena papar matahari yg panas banget juga tidak hitam kayak afrika.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm iya ya, tapi menurutku sih karena memang ada banyak faktor lain yang juga berpengaruh. Ndak semata tropis, subtropis atau kutub. Misalnya aja migrasinya dulu dari mana dan kapan? Proses perubahan warna kulit populasi dominan tersebut butuh berapa lama? (mungkin afrika lebih dulu dihuni daripada di maya/amerika latin?), faktor budaya? (misal di arab pake pakean rapat di afrika/papua ndak), vegetasi? (misal di brazil atau kalimantan hutan hujan tropis jadi banyak yang berteduh kalo di afrika/australia hidup savana/sabana jadi kepanasan)...

      Hapus