Laman

Jumat, April 20, 2012

Just Reflection: Apakah Salah Menjadi Pria Metroseksual?

Sekitar 10 tahun terakhir sepertinya opini tentang pria modern adalah pria yang putih, bersih, wangi, rambut rapi, pakaian licin dan mengikuti trend dan semacamnya. Sudah semakin dianggap wajar seorang pria memakai pemutih kulit, facial di salon atau bahkan perawatan khusus wajah di pusat-pusat kecantikan. Sepertinya terjadi pergeseran nilai mengenai pria ideal sehingga penampilan menjadi semakin utama. Temen saya ada yang seperti itu. Memang tampak keren dan jadi populer. Bikin iri. Sampai pada kadar ingin menirunya. Apakah salah bila saya ingin menjadi pria metroseksual, yang tampaknya sempurna dan menjadi idola para wanita? Hmm...


Sebenarnya apakah definisi metroseksual?
Saya tidak tahu dan tidak punya banyak waktu untuk melakukan investigasi yang serius. So berikut ini suatu definisi yang saya ambil dari sebuah blog:
Metroseksual berasal dari bahasa Yunani, ibu kota dan seksual. Secara kasar, pria metroseksual dapat diartikan sebagai pria urban yang bergaya hidup mewah, peduli akan penampilan, narsistik dan memiliki kecenderungan untuk menonjolkan segi femininnya. (blognya stephanie).

Beberapa sumber bacaan mengatakan bahwa pria metroseksual adalah "wo-men" yaitu "women oriented men". Beberapa teori membahas mengapa fenomena pria metroseksual muncul. Namun menurut saya ada banyak pengaruh tersembunyi, sebagian terutama bertujuan agar seorang pria menjadi semakin konsumtif. Dan tentu saja menghabiskan banyak uang untuk menjaga penampilannya.



Memperbaiki dan menjaga penampilan wajar jika dilakukan sewajarnya
Nah inilah poin yang seringkali harus dievaluasi. Apakah tindakan memperbaiki penampilan bagi seorang pria itu wajar atau sudah berlebihan? Tentu saja tolok ukur masing-masing pria berbeda, dan hal inilah yang dipengaruhi budaya sekitar dimana ia tinggal, tingkaty ekonomi dan pendidikan. Bahkan juga tuntutan pekerjaan. Tentu saja "wajar"nya pria yang bekerja sebagai model dan pria yang bekerja sebagai pegawai bank juga berbeda.

Milikilah prinsip sebagai pria, apa yang diutamakan di dalam kehidupan nyata
Sebenarnya peran seorang pria tergantung dia berada dalam "dunia" yang seperti apa. Kalau bekerja sebagai peneliti maka yang diutamakan bukan performa otot tetapi performa otak. Beda dengan seorang yang berada di "front page" model, binaraga, penyanyi dan sebagainya. Saya pribadi punya prinsip prioritas, sebenarnya apa yang seharusnya saya optimalkan terkait "peran" dalam keluarga dan masyarakat. Namun bukan berarti saya dibenarkan untuk tidak menjaga kebersihan diri dan penampilan.

Diri sendirilah yang menentukan, bukan iklan atau ikon pria
Ya, seberapa jauh ke "metroseksual" an diri kita adalah kita sendiri yang menentukan, tentu saja berdasarkan skala prioritas. Jadi menjadi metroseksual itu sama sekali tidak salah. Yang penting menjadi diri sendiri bukan karena sekadar ikut-ikutan tanpa ada proses berpikir untuk memilahnya :D



Menjadi seseorang yang nyaman bagi diri sendiri dan orang lain
Menjadi seorang pria bukan berarti harus cuek terhadap penampilan, terutama berkaitan dengan kebersihan dan kerapian. Mengapa? Karena kebersihan diri adalah suatu bentuk rasa bersyukur sekaligus menjaga kesehatan. Jadi tidak ada salahnya kalau rajin mandi dua kali sehari, rajin bercukur dan sebagainya. Bukankah penampilan yang bersih dan rapi itu berarti menghargai diri sendiri dan orang lain? Membuat tubuh nyaman dan orang yang berinteraksi juga nyaman?

Kesimpulannya...
Saya telah mendefinisikan sikap saya terhadap fenomena pria metroseksual. Saya ingin menjadi pria yang bersih dan rapi serta berperilaku baik, berguna bagi sesama dan membahagiakan sebanyak-banyaknya orang. Penampilan bersih dan rapi bagi saya penting namun bukan prioritas. Yang menjadi prioritas adalah senantiasa memperbaiki isi otak dan sikap terhadap sesama ...:D

haha... lebay...

1 komentar: