Laman

Kamis, April 14, 2011

Mencoba memahami film Hanung secara subjektif, sepihak dan dangkal...:D


Film, apapun isinya, merupakan wahana indah dan populer dalam menebarkan sesuatu yang baik (atau buruk). Sesuatu itu bisa konsep dalam tahap pemikiran atau dalam ranah tindakan. Hanung Bramantyo adalah seorang sutradara yang gemar akan film religi seperti "Ayat-ayat cinta", "Perempuan Berkalung Sorban", "Sang Pencerah dan yang terbaru adalah "?". Hanung pasti tahu dan belajar, agama merupakan topik sensitif. Masing-masing orang mungkin punya kadar pemahaman yang berbeda dalam bidang agama karena punya otak masing-masing. Pemahaman siapakah yang kita anut? Hanung akan sangat berpahala bila dia menebarkan konsep pemahaman Islam yang benar. Tapi bila salah, tentu saja akan sangat berdosa. Saya yakin Hanung telah berkonsultasi dengan ulama-ulama mengenai hal ini untuk berusaha mempunyai pemahaman yang benar. Tetapi mengapa ulama itu bukan yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia, yang beranggotakan ulama yang telah mempelajari al-Quran dan Hadist bertahun-tahun. Atau dia membiarkan kemungkinan kontroversi ini terjadi hanya karena "Biar film saya jadi laris" Aduh maafkan prasangka buruk saya ini karena saya mencermati selalu ada kontroversi dengan MUI dalam film Hanung sebelumnya. Kali ini, lagi-lagi Hanung memilih teguh pendirian terhadap pemahamannya dan memilih tidak mengantisipasi kemungkinan kontroversi ini. Mengapa? Meneketehe. Saya bukan Hanung :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar